Selasa, 11 Januari 2011

Asas Stratigrafi, Satuan Pengendapan, dan Karakter Perlapisan


Stratigrafi mempelajari susunan pengendapan lapisan sepanjang waktu geologi. Stratigrafi ialah cara memerikan (description) urutan lapisan-lapisan sedimen ke arah vertikal di suatu daerah tertentu dengan mempergunakan asas stratigrafi dan memperhubungkannya dengan waktu. Asas stratigrafi berbunyi sebagai berikut: “pada suatu urutan lapisan-lapisan batuan endapan, maka lapisan-lapisan yang ada di bawah selalu lebih tua daripada yang ada di atasnya”. Urutan-urutan stratigrafi di berbagai kerak bumi harus dibanding-bandingkan, dan bagian-bagian yang terbentuk dalam waktu yang bersamaan harus diketahui. Cara untuk membandingkan urutan stratigrafi tersebut adalah dengan mengkorelasikan atau menasabahkan (Gambar 36.).




Gambar 36. Cara Mengkorelasi / Penasabahan
 
 

Perlapisan Sedimen
Perwujudan sedimen yang tampak sebagai suatu benda yang pipih dan berbentuk lempeng atau kanta, yang secara litologi homogen (bersusunan sama). Stratum (=satuan sedimen) merupakan bagian pengendapan yang terbentuk selama susunan fisika dan kimianya sama. Perlapisan dapat sejajar maupun tidak sejajar. Contoh perlapisan dapat dilihat dalam Gambar 37.



Gambar 37. Berbagai Tipe Perlapisan (Bedding)
 
 



Perlapisan dapat terjadi melalui proses perlapisan pilihan (graded bedding), yang menunjukkan adanya perubahan besar butir pada lapisan-lapisan. Apabila sedimen lempungan berinteraksi dengan udara, maka akan dapat terjadi rekah-kerut (lekang).
Sebab-sebab terjadinya perlapisan:
1.            Perubahan-perubahan keadaan iklim
2.            Perubahan-perubahan dalam daya angkut air
3.            Perubahan-perubahan pada muka laut
4.            Pengaruh-pengaruh kimiawi
5.            Gerak naik di daerah-daerah yang mengalami erosi
6.            Perlapisan karena jasad-jasad

Karakter Perlapisan Batuan

A. Kemiringan perlapisan batuan (dip)
  1. Dip sesungguhnya (true dip), adalah dip yang sesungguhnya dari suatu batuan.
  2. Dip semu (apparent dip), adalah dip hasil pengukuran lapangan .




Gambar 38. Sketsa Dip dan Strike serta Arahnya
 
 



Fungsi dip:
  1. Analisis struktur geologi
  2. Korelasi stratigrafi / asas stratigrafi
  3. Prediksi arah aliran bawah tanah
  4. Analisis kejadian gerak massa batruan

B. Tebal lapisan

  1. Ketebalan sesungguhnya (true thickness)
  2. Ketebalan vertikal (vertical thickness)
  Adakalnya tebal lapisan agak sulit ditentuka karena lapisan tersebut telah terlipat (Gambar 39) Cara penentuan tebal lapisan secara sederhana dapat dilihat pada Gambar 40.

Gambar 39. Contoh Tebal Lapisan pada Strata yang Terlipat (A-B-C)
 






Gambar 40. Cara Penentuan Tebal Lapisan (BC = AB sin b = AB cos a)
 
 


Keselarasan dan Ketidakselarasan Batuan
Ketidakselarasan batuan (unconformity) merupakan indikasi adanya perubahan sementara atau permanen dari kondisi-kondisi masa lampau. Perubahan-perubahan kondisi tersebut menunjukkan adanya fase orogenik, transgressi atau regressi, perubahan fasies, perubahan iklim, dan perubahan faunal sepanjang waktu. Ketidakselarasan dapat digunakan untuk menentukan batas-batas sistem stratigrafi atau sistem subdivisi.
Ketidakselarasan memiliki tiga aspek penting yang perlu diketahui. Ketiga aspek penting tersebut adalah sebagai berikut.
1.    Aspek waktu
Ketidakselarasan berkembang selama periode tertentu saat tidak ada sedimen yang terendapkan waktu itu. Dengan kata lain, ketidakselarasan mencerminkan waktu yang tidak tercatat.
2.    Aspek pengendapan/deposisi
Pada ketidakselarasan terdapat interaksi proses pengendapan, yang meliputi wilayah luas maupun sempit. Jumlah material yang diendapkan didominasi oleh yang berada pada tingkat rendah.
3.    Aspek struktur
Ketidakselarasan dapat terjadi dalam bentuk struktur planar yang memisahkan lapisan tua dan muda. Bidang ketidakselarasan dapat berupa bidang yang lapuk, erosi/denudasi (suatu permukaan yang non-deposisional). Struktur ketidakselarasan dapat sejajar dengan lapisan teratas dapat pula tidak teratur (irregular). Apabila terjadi gerakan bumi yang lebih lanjut dapat menghasilkan lipatan atau patahan.
Tipe-tipe ketidakselarasan
1.    Angular unconformity
Lapisan terbawah adalah lapisan yang tua, memiliki dip yang berbeda terhadap lapisan di atasnya. Tipe ini mencakup hal-hal yang tidak terkait dengan adanya proses pelipatan.
2.    Paralel unconformity
Lapisan terbawah dan lapisan teratas memiliki dip yang hampir sama dan arahnya sama.


3.    Non-depositional unconformity
Tipe ini merupakan tipe yang sulit ditemui atau sedikit ditemukan di lapangan. Periode pembentukan tipe ini relatif pendek, bersifat lokal, dan tidak terjadi proses deposisi dalam satu waktu. Pada tipe ini juga tidak ditemui adanya gejala-gejala endogen
4.    Heterolithic unconformity
Tipe ini terbentuk apabila sedimen menumpang di atas batuan beku intrusi atau menumpang di atas batuan metamorf.
Sketsa tipe-tipe ketidakselarasan dapat dilihat pada Gambar 41.




Gambar 41. Sketsa Berbagai Macam Ketidakselarasan
 
 


Peta Geologi

Peta geologi memberikan petunjuk tentang susunan lapisan batuan dan pada umumnya memberikan informasi tentang formasi apa saja yang ada di daerah yang dipetakan. Dasar untuk peta geologi biasanya adalah peta topografi.
Jenis-jenis peta geologi dan peta-peta yang berkaitan dengan peta geologi adalah sebagai berikut.
  1. Peta geologi permukaan (surface geological map), yaitu peta yang memberikan berbagai formasi geologi yang langsung terletak di bawah permukaan. Skala peta ini bervariasi antara 1 : 50.000 dan lebih besar, berguna untuk menentukan lokasi bahan bangunan, drainase, pencarian air, pembuatan lapangan terbang, maupun pembuatan jalan.
  2. Peta singkapan (outcrop map), yaitu peta yang umumnya berskala besar, mencantumkan lokasi ditemukannya batuan padat, yang dapat memberikan sejumlah keterangan dari pemboran beserta sifat batuan dan kondisi strukturalnya. Peta ini digunakan untuk menentukan lokasi, misalnya material yang berupa pecahan batu, dapat ditemukan langsung di bawah permukaan.
  3. Peta ikhtisar geologis, yaitu peta yang memberikan informasi langsung berupa formasi-formasi yang telah tersingkap, mapun ekstrapolasi terhadap beberapa lokasi yang formasinya masih tertutup oleh lapisan Holosen. Peta ini kadang agak skematis, umumnya berskala sedang atau kecil, dengan skala 1 : 100.000 atau lebih kecil.
  4. Peta struktur, yaitu peta dengan garis-garis kedalaman yang dikonstruksikan pada permukaan sebuah lapisan tertentu yang berada di bawah permukaan. Peta ini memiliki skala sedang hingga besar.
  5. Peta isopach, yaitu peta yang menggambarkan garis-garis yang menghubungkan titik-titik suatu formasi atau lapisan dengan ketebalan yang sama. Dalam peta ini tidak ditemukan konfigurasi struktural. Peta ini berskala sedang hingga besar.
  6. Peta fotogeologi, yaitu peta yang dibuat berdasarkan interpretasi foto udara. Peta fotogeologi harus selalu disesuaikan dengan keadaan yang sesungguhnya di lapangan.
  7. Peta hidrogeologi, yaitu peta yang menunjukkan kondisi airtanah pada daerah yang dipetakan. Pada peta ini umumnya ditunjukkan formasi yang permeabel dan impermeabel.
Contoh peta geologi dan beberapa simbol yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 42., Gambar 43., dan Gambar 44.



Gambar 42. Konstruksi Peta Geologi pada Daerah Pelipatan
 
 









Gambar 43. Peta Geologi dan Penampang Melintang
 
 








Gambar 44. Beberapa Simbol yang Digunakan dalam Peta Geologi
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar