Tampilkan postingan dengan label geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label geologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2011

Mengatasi virus shortcut dengan ''Virus Shortcut Remover''


Mau berbagi ini, mungkin bisa bermanfaat bagi agan dan aganwati semuanya, sewaktu di kampus temen laptopnya terserang virus shortcut tanda-tanda keserangnya yaitu ketika dipasangi flashdisk, semua folder yang ada dalam flasdisk akan berunah menjadi icon shortcut dan biasanya antivirus free yang label internasional kebanyakan malah gag bisa detek ini virus, karena virus ini virus lokal dan di buat dengan visual basic, sehingga anti virus yang gede-gede ngira yang jalan hanya sebuah aplikasi biasa bukan virus. seperti ini contohnyakayak yambar di samping.
kalau sudah ada kayak gambar di atas jangan di klik si shortcut itu, bahaya katanya :-P, lalu dimana file kita yang sesungguhnya, kalu pengen liat file kita yang
sebenarnya,  kamu pilih tools-folder option-view - pada hidden fike and folder pilih yang show hidden file and folder- dan hilangkan centang pada "hide protected operating system file ( gambar seperti ini )

maka kelihatan tuh folder asli kita yang di sembunyiin oleh si virus, ni contoh folder asli yang sudah di unhidden dan kliatan ( yang dilingkari warna merah adalah virusnya ) 



nah kalo terlanjur di klik gag usah kawatir, ini ada aplikasi bagus khusus untuk virus shortcut ini, namanya "Virus Shortcut Remover"  aplikasinya silahkan download disini
+ Cara penggunaanya

[XP]
1. Buka file Install.
2. BukaVirus Shortcut Remover.
3. Hajar virusnya (  computer untuk file virus di C, removable untuk hardisk dan flashdisk ).

4. Untuk menghilangkan virus di C pilih computer tinggal klik Scan


 5. Untuk menghilangkan virus di drive D dst termasuk flasdisk pilih Removable Storage- pilih drive yang akan dibersihkan lalu klik Scan.



6. Alhamdulilah Virus Sekarang  KO

[Vista, 7]
1. Buka Install - run as administrator.
2. BukaVirus Shortcut Remover - run as administrator.
3. Sama seperti diatas

Terima kasih semoga bermanfaat :-D jangan lupa komen dan di follow ya, kalau ada blog saya follow balik 
Salam blogger


Sabtu, 29 Januari 2011

Jenis batusan di Bumi dan proses terbentuknya


 Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan berbeda pula proses terbentuknya.

Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan vulkanik. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral penyusun batuannya. Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih
lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang sering dijadikan hiasan rumah). Sedangkan batuan beku vulkanik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat (misalnya akibat letusan gunung api) sehingga mineral penyusunnya lebih kecil. Contohnya adalah basalt, andesit (yang sering dijadikan pondasi rumah), dan dacite
   
Batuan sediment atau sering disebut sedimentary rocks adalah batuan yang terbentuk akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari hasil proses pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan seterusnya terendapkan. Batuan sediment ini bias digolongkan lagi menjadi beberapa bagian diantaranya batuan sediment klastik, batuan sediment kimia, dan batuan sediment organik. Batuan sediment klastik terbentuk melalui proses pengendapan dari material-material yang mengalami proses transportasi. Besar butir dari batuan sediment klastik bervariasi dari mulai ukuran lempung sampai ukuran bongkah. Biasanya batuan tersebut menjadi batuan penyimpan hidrokarbon (reservoir rocks) atau bisa juga menjadi batuan induk sebagai penghasil hidrokarbon (source rocks). Contohnya batu konglomerat, batu pasir dan batu lempung. Batuan sediment kimia terbentuk melalui proses presipitasi dari larutan. Biasanya batuan tersebut menjadi batuan pelindung (seal rocks) hidrokarbon dari migrasi. Contohnya anhidrit dan batu garam (salt). Batuan sediment organik terbentuk dari gabungan sisa-sisa makhluk hidup. Batuan ini biasanya menjadi batuan induk (source) atau batuan penyimpan (reservoir). Contohnya adalah batugamping terumbu.
  
Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan temperature dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperature dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tektur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu pasir.Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-batuan baru lagi.
 
Proses-proses tersebut berlangsung sepanjang waktu baik di masa lampau maupun masa yang akan datang. Kejadian alam dan proses geologi yang berlangsung sekarang inilah yang memberikan gambaran apa yang telah terjadi di masa lampau seperti diungkapkan oleh ahli geologi “JAMES HUTTON” dengan teorinya “THE PRESENT IS THE KEY TO THE PAST

Penggunaan batuan SILIKAT sebagai pupuk ramah lingkungan

Batuan silikat merupakan bahan alami yang mengandung banyak unsur hara esensial bagi tanaman. Pada saat ini, batuan silikat telah dimasukan sebagai salah satu sumber hara tanaman (pupuk) dalam konsep pertanian organik (organic farming) (Bockman et al., 1990) disamping bahan organik/kompos dan pupuk hayati (biofertilizers).
Sejak dua dekade terakhir, kemungkinan penggunaan batuan silikat sebagai pupuk pelepas hara lambat (slow release fertilizer) telah mendapat perhatian sig-nifikan dari para pakar ilmu tanah dan agronomi. Penggunaan pupuk batuan sili-kat (PBS) dalam bidang pertanian juga dikaitkan dengan pemanfaatan quarry by-products di Australia Barat (Coroneous et al., 1996; Hinsinger et al., 1996; Bolland dan Baker, 2000), Queensland (Coventry et al., 2001), dan Brazil (Leonardo et al., 1987). Batuan silikat di Indonesia sangat melimpah, tetapi penelitian ataupun perhatian mengenai kemungkinan penggunaan PBS sebagai sumber hara tanaman maupun amelioran tanah belum ada/sangat terbatas.

Secara umum, hasil-hasil penelitian tentang kemungkinan penggunaan PBS sangat positif, dan direspon oleh kalangan industri di beberapa negara dengan memproduksi PBS pada skala besar. Namun aplikasi PBS dalam bidang pertanian sangat terbatas, karena pada umumnya para praktisi/petani masih ragu akan efek-tivitas PBS. Berbagai hasil penelitian yang pernah dilakukan, permasalahan aplikasi PBS, serta beberapa pemikiran tentang kemungkinan penggunaan PBS untuk mengatasi masalah-masalah praktis usahatani dan degradasi sumberdaya lahan di Indonesia, dipaparkan dalam tulisan ini.
PBS Sebagai Sumber Hara Tanaman
Tanaman tingkat tinggi membutuhkan sekitar 17 unsur hara esensial (Welch, 1995), yaitu C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Zn, Cu, B, Ni, Mo, Cl. Bebe-rapa unsur tambahan (Co, Si, Na) dibutuhkan oleh tanaman tertentu atau dalam kondisi lingkungan tertentu. Dari banyak macam hara esensial itu, sebagian besar terdapat dalam batuan silikat - sebagai hasil erupsi gunung berapi dan merupakan bahan induk utama sebagian besar tanah mineral. Melalui proses biofisik dan ki-mia yang kompleks, unsur hara pada batuan tersebut dapat terlarutkan oleh agen pelapuk batuan. Unsur hara terlarut dapat diserap tanaman yang tumbuh pada tanah yang terbentuk dari batuan induk tersebut.
Proses pelapukan dan pelarutan unsur hara dari batuan (bahan induk tanah mineral) secara alami sangat lambat, jauh lebih lambat daripada laju serapan hara oleh tanaman. Peningkatan intensitas tanam dan penggunaan varietas unggul yang rakus terhadap unsur hara, memerlukan stok unsur hara tersedia dalam tanah yang banyak pula untuk dapat mempertahankan hasil tanaman yang optimum. Sistim usahatani yang selama ini diterapkan di banyak tempat hanya menggunakan pupuk N, P, dan/K mudah larut, sementara unsur hara lain di dalam tanah meng-alami defisit terus-menerus. Akibatnya, terjadi ketidak-seimbangan dan kekahatan berbagai unsur hara serta pemasaman tanah yang pada akhirnya menurunkan efektivitas pemupukan (N, P) dan hasil tanaman. Batuan silikat atau dikom-binasikan dengan pupuk alami lainnya (organik) kemungkinan dapat digunakan sebagai pengganti (replacement) hara yang terkuras tersebut. Penelitian tentang PBS terutama diarahkan pada upaya untuk mempercepat proses pelarutan hara dari PBS di dalam tanah/rhizosphere dengan melakukan modifikasi faktor-faktor yang mengontrol disolusi PBS, serta evalusi efektivitas agronomi PBS pada berbagai jenis tanaman dan tanah.

Efektivitas Agronomi PBS dan Faktor yang Mempengaruhinya
Hasil penelitian de Villers (1961), Sanz Scovino dan Rowell (1988), Gillman (1980), Gillman et al. (2001 dan 2002), Leonardos et al. (1987 dan 2000), Coventry et al. (2001), Harley (2002), dan Priyono (2004) menunjukan bahwa PBS mempunyai banyak keunggulan potensial dibandingkan dengan pupuk kimia. Keunggulan tersebut adalah:
•    PBS mengandung banyak macam hara esensial bagi tanaman dan kemungkin-an dapat digunakan sebagai pupuk majemuk (multinutrient fertilizers).
•    Selain sebagai sumber hara, aplikasi PBS juga mempunyai efek pengapuran (meningkatkan pH tanah) dan mengurangi toksisitas (sifat beracun) dari unsur-unsur tertentu/mikro yang kadarnya dalam tanah terlalu tinggi untuk tanaman.
•    PBS sebagai pupuk non polutant  karena pelepasan hara dari PBS yang lambat sehingga polusi tanah dan air akibat pelindihan (leaching) hara dari lahan pertanian sangat minim.
•    Penggunaan PBS mempunyai pengaruh positif terhadap sifat tanah dan pertumbuhan tanaman dalam jangka waktu lama sehingga dapat menjamin keberlanjutan (sustainability) hasil tanaman yang tinggi.
Sebagai respon positif terhadap hasil penelitian di atas, PBS dari batuan basalt (Ø < 250 μm) telah diproduksi pada skala industri di Queensland dengan merk dagang MinplusTM (Coventry et al., 2001), sedangkan di Jerman (90 % Ø < 0.1 mm) dengan merk dagang ‘Eifelgold’ (Hildebrand dan Schack-Kirchner, 2000).
Meskipun banyak peneliti merasa optimis akan keunggulan PBS seperti dije-laskan di atas, beberapa peneliti lain justru pesimis akan keefektivan PBS berda-sarkan hasil penelitian mereka. Misalnya, Coroneous et al. (1996) dan Hinsinger et al. (1996) menyimpulkan bahwa penggunaan bubuk batuan granit sebanyak 20 t/ha tidak efektif sebagai sumber K untuk pertumbuhan ryegrass, bahkan peneli-tian di lapang yang dilakukan oleh Bolland dan Baker (2000) dengan PBS dan dosis yang sama menunjukan penurunan hasil wheat hingga mencapai 65 % re-latif terhadap produksi yang diperoleh dengan pemberian pupuk K dalam bentuk KCl. Bakken et al. (1997 dan 2000) juga menyimpulkan bahwa penggunaan bubuk batuan dari limbah pertambangan (mine tilling) yang terdiri atas mineral mika dan feldspars memberikan sumbangan unsur hara K yang sangat kecil bagi pertumbuhan tanaman rumput.

Perbedaan hasil penelitian itu disebabkan oleh adanya keragaman jenis dan ukuran partikel PBS serta jenis tanah dan tanaman yang digunakan. Perbedaan ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel, atau tidak adanya informasi tentang ukuran partikel pada beberapa hasil penelitian yang dipublikasikan, menyulitkan untuk dilakukan perbandingan hasil penelitian secara proporsional (Harley dan Gilkes, 2000). Terlepas dari kontradiksi hasil penelitian tersebut, sebagian besar pakar sependapat bahwa faktor pembatas utama penggunaan PBS dalam bidang pertanian secara luas adalah sangat rendahnya kadar dan lambatnya pelarutan unsur hara dari PBS ke dalam larutan tanah, sehingga diperlukan dosis yang sangat tinggi dan tidak ekonomis (Hinsinger et al., 1996).

Batuan silikat dapat dikelompokan menjadi dua kelompok berdasarkan domi-nasi mineral penyusunnya, yaitu batuan mafic dan felsic. Kelompok batuan mafic, secara mudah dikenali dari warnanya yang kelam, didominasi oleh mineral ferro-magnesian silikat yang mengandung banyak kation basa seperti Mg, Ca, serta unsur hara mikro Mn, Fe, Cu, dan Zn dengan sedikit K (< 1 % K2O). Kelompok batuan felsic (umumnya berwarna cerah) didominasi oleh mineral kaya silika (kwarsa dan/feldspar) mengandung sedikit hingga cukup banyak unsur K (4 – 20 % K2O, Priyono, 2004), tetapi miskin unsur hara mikro (Fe, Zn, Cu dsb) (Krauskopt, 1972; Aubert dan Pinta, 1979; Priyono, 1991 dan 2004; Deer et al., 1996; Harley dan Gilkes, 2000). Ketepatan pemilihan jenis batuan sebagai PBS akan tergantung pula pada jenis dan intensitas kekahatan unsur hara tanaman (Coroneos et al., 1996; Hinsinger et al., 1996; Bolland dan Baker, 2000). PBS dari feldspars (Sanz Scovino dan Rowell, 1988) dan gneiss (Wang et al., 2000; Priyono, 2004) yang termasuk dalam kelompok batuan felsic mungkin lebih sesuai sebagai sumber hara K untuk diaplikasikan pada tanah yang kahat K dari- pada bubuk batuan mafic (misalnya basalt dan dolerite).

Sifat tanah, misalnya tekstur (Priyono, 1991; Priyono dan Gilkes, 2004), pH (Holdren dan Berner, 1979; Priyono dan Gilkes, 2004), serta kadar air dan bahan organik (Oliva et al., 1999) juga menentukan efektivitas PBS. Pupuk batuan silikat sangat efektif apabila diaplikasikan pada tanah masam dan/miskin hara (Conventry et al., 2001; Harley, 2002; Priyono, 2004). Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan PBS sebagai pemasok berbagai hara esensial bagi tanaman dan sebagai bahan kapur (meningkatkan pH tanah). Dalam kondisi kahat hara, akar tanaman mengeluarkan berbagai asam organik (dalam bentuk eksudat) yang lebih banyak dibanding tanaman dalam kondisi kecukupan hara (pertumbuhan normal) (Hinsinger et al., 2001).

Jenis tanaman yang berbeda mungkin berbeda pula dalam hal kebutuhan unsur hara sehingga mempengaruhi efektivitas PBS. Misalnya, tanaman rumput (rye-grass) lebih banyak menyerap unsur hara Ca, Mg, dan K daripada clover yang dipupuk dengan mineral silikat yang digiling secara intensif (high-energy milling) (Harley, 2002). Hasil penelitian Wang et al. (2000) menunjukkan bahwa penga-ruh jenis tanaman terhadap efektivitas PBS terkait dengan efisiensi sistim perakar-an tanaman dalam mengabsorsi unsur hara (K) dari batuan silikat (gneiss), dan efisiensi perakaran jagung > ryegrass > pak-choi. Peran penting akar tanaman sebagai stimulan pelarutan hara dari batuan di rhyszosphere dibuktikan pula oleh Hinsinger et al. (1995 dan 2001).

Beberapa cara praktis untuk mempercepat pelarutan hara dari PBS ke dalam larutan tanah telah dikaji, misalnya melalui pengasaman (acidulation) gneiss dengan asam kuat/ H2SO4 (Werasuriya et al., 1993) dan penggilingan intensif (high-energy milling) (Harley, 2002; Lim et al., 2003; Priyono, 2004). Metode acidulation sangat efektif, tetapi penggunaan asam kuat yang dicampur dengan PBS mungkin perlu dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Penggi-lingan intensif (high-energy milling) yang umumnya digunakan dalam industri keramik atau bidang tehnik material (material engineering) dapat menghancurkan struktur mineral atau batuan dan dihasilkan nanoparticles yang sangat reaktif (Garcia et al., 1991; Suraj et al., 1997; Sugiyama et al., 1994; Gasalla et al., 1987; Aglietti, 1994; Kühnel dan Van der Gaast, 1989). Tehnik tersebut telah digunakan untuk memproduksi pupuk dan ternyata dapat meningkatkan efektivitas PBS dari beberapa jenis mineral silikat (Harley, 2002), fosfat alam (Lim et al., 2003), basalt, dolerite, gneiss, dan K-feldspar (Priyono et al., 2002; Priyono dan Gilkes, 2004). Pada skala laboratorium, 10 hingga 90 menit (tergantung pada jenis batu-an) merupakan lama waktu penggilingan PBS dengan energi tinggi yang optimum (Priyono et al., 2002). Hasil kajian tersebut menjukkan bahwa batuan silikat yang digiling halus sangat potensial untuk dapat digunakan sebagai pupuk yang secara agronomis lebih efektif atau sama efektifnya dengan pupuk kimia (dalam bentuk senyawa garam mudah larut dalam air). Akan tetapi, kajian lebih lanjut tentang kelayakan tehnis maupun ekonomis (milling cost) produksi PBS pada skala industri dan aplikasinya pada berbagai jenis tanaman dan tanah perlu dilakukan.

PBS Sebagai Bahan Amelioran Tanah

Aplikasi PBS selain dapat meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman juga berpengaruh positif terhadap beberapa sifat tanah penting lainnya yang secara ga-bungan dan saling tindak (confounding effects) mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman (Priyono, 2004). Pada kondisi tanah tertentu, PBS dapat lebih ber-peran sebagai bahan amelioran umum daripada hanya sebagai pemasok unsur hara tanaman (Blum et al., 1996; Coventry et al., 2001; Priyono, 2004).

Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi PBS dapat meningkat-kan pH tanah masam (Holdren dan Berner, 1979; Gillman, 1980; Gillman et al., 2001 dan 2002; Leonardos et al., 1987 dan 2000; Wang et al., 2000; Coventry et al., 2001; Harley, 2002; Priyono et al., 2002; Priyono dan Gilkes, 2004) dan EC (Priyono, 2004), meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah (Gillman et al., 2001 dan 2002; Coventry et al., 2001), dan mengurangi toksisitas Al dan jerapan P oleh kation polivalen (Mn, Fe, Al) pada tanah masam (Coventry et al., 2001). Sejauh ini, pengaruh PBS terhadap aktivitas organisme tanah dan keragam-an hayati belum banyak disentuh oleh peneliti atau belum dipublikasikan. Selain itu, pemberian PBS (dosis 5 – 10 t/ha) meningkatkan pasokan hara Si dalam jum-lah besar (Conventry et al., 2001; Priyono, 2004), dan hal itu memberikan keun-tungan tambahan kaitannya dengan peningkatan ketahanan tanaman tertentu ter-hadap serangan hama dan penyakit (Volk et al., 1958; Epstein, 1999) dan mengu-rangi toksisitas Al pada tanaman jagung (Corrales et al., 1997).

Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut, PBS perlu pula dilihat pada kapa-sitasnya sebagai bahan remedial untuk menangani masalah-masalah khusus dalam bidang pertanian dan lingkungan. Misalnya, masalah yang berkaitan dengan ke-masaman pada tanah sulfat masam, tanah sodik/salin, reklamasi lahan terdegrada-si akibat aktivitas pertambangan maupun penebangan hutan. Karena itu, peneliti-an tentang PBS perlu diarahkan pula pada kemampuan PSB sebagai bahan (1) penetral kemasaman pada tanah sulfat masam, (2) penetral salinitas tanah salin/ sodik, (3) peremajaan lahan-lahan terdegradasi, dan (4) stimulan keanekaragaman hayati (biodiversity) (Priyono, 2004). Berbagai pengaruh positif dari PBS terha-dap sifat tanah maupun hasil tanaman serta aspek lingkungan secara umum belum diperhitungkan dalam banyak kajian/evaluasi tentang efektivitas PBS.

Penggunaan PBS pada Sistim Usahatani di Indonesia
Kajian kemungkinan penggunaan PBS di Indonesia belum banyak dilakukan atau dipublikasikan hasilnya. Sarief (1999) menunjukkan dampak positif dari abu volkan hasil letusan G. Galunggung terhadap sifat dan produktivitas tanah. Berdasarkan temuan itu dapat diperkirakan bahwa produktivitas tanah pertanian di daerah vulkanik dan sekitarnya lebih tinggi daripada di daerah non vulkanik, meskipun studi komparatif secara luas (di Indonesia) belum pernah dilakukan. Satu hal yang mungkin perlu dipertanyakan adalah Perlukah PBS digunakan pada sistim usahatani di Indonesia? mengingat sebagian besar lahan pertanian di Indonesia berada di daerah vulkanik atau berbahan induk batuan silikat. Sebelum dapat menjawab pertanyaan tersebut, beberapa hal yang relevan perlu dipaparkan kembali sebagai bahan pertimbangan.

Swasembada pangan (beras) pernah kita capai sebagai hasil dari kebijakan penggunaan bahan agro-kimia. Tetapi sejak beberapa tahun terakhir kita harus mengimport bahan pangan (misalnya beras dan gula) dari negara tetangga dalam kuantitas cukup besar. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah menurunnya produktivitas lahan pertanian kita. Pada saat yang sama, penggunaan pupuk (terutama N/urea) persatuan luas cenderung terus meningkat, tetapi tidak selalu diikuti oleh peningkatan hasil yang proporsional. Hal tersebut tentu ada penyebabnya, antara lain terjadinya ketidak-seimbangan hara dalam tanah. Penambahan PBS sebagai sumber hara nir N mungkin tidak akan mening-katkan produksi tanaman pangan secara dramatis, tetapi setidaknya dapat mem-pertahankan tingkat produksi yang wajar untuk jangka waktu lama (sustainable). Sebagai pupuk pelepas hara lambat dan pengaruhnya dalam jangka waktu lama, PBS sangat sesuai untuk diaplikasikan pada tanaman perkebunan (Conventry et al., 2001) yang banyak dikembangkan pada tanah masam (Latosol dan Podsolik).

Kombinasi pupuk organik/kompos dan PBS mungkin merupakan alternatif yang paling tepat sebagai pengganti pupuk kimia yang sebagian besar harus diimport. Pupuk organik/kompos berfungsi sebagai pemasok hara (termasuk N dan P), memperbaiki sifat fisik tanah (struktur, kemampuan menyimpan air dsb) dan sumber energi organisme tanah; sedangkan PBS berfungsi sebagai pemasok hara (kecuali N) dan amelioran tanah secara umum. Kombinasi kedua bahan tersebut diperkirakan akan mempunyai efek saling tindak yang saling mendukung (interaksi sinergik) terhadap perbaikan sifat tanah maupun partumbuhan tanaman. Tersedianya sumber energi (bahan organik) akan mengintensifkan aktivitas orga-nisme tanah. Aktivitas organisme tanah menghasilkan asam-asam organik yang dapat mempercepat pelarutan hara dari PBS (Huang dan Kiang, 1972; Barman et al., 1992). Sebaliknya, pelarutan PBS meningkatkan pH dan fungsi amelioran lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan dan aktivitas optimum organisme tanah (Dong et al., 2000; Liermann et al., 2000).

Pengadaan bahan baku pupuk organik dapat dikaitkan dengan pemanfaatan limbah organik pertanian dan domestik. Batuan silikat sangat melimpah di Indonesia, kecuali di pulau-pulau yang tidak terdapat atau tidak pernah/sedikit menerima kiriman hasil erupsi gunung berapi (misalnya P. Kalimantan, beberapa bagian dari P. Sumatera, Sulawesi, Irian Jaya, dan NTT). Selain itu, limbah dari industri bahan bangunan dari batuan silikat (quarry by-products) berupa partikel halus/debu dapat dimanfaatkan sebagai PBS. Dengan demikian kedua bahan baku pupuk alami tersebut tersedia secara lokal dan pemanfaatannya sekaligus dapat dikaitkan dengan penanganan sebagaian masalah pencemaran lingkungan hidup. Ringkasnya, penggunaan PBS bersamaan dengan bahan organik/kompos diper-lukan pada sistim usahatani (tanaman pangan maupun perkebunan) di Indonesia menuju pertanian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Aglietti, E.F., 1994. The effects of dry grinding on the structure of talc. App. Clay Sci. 9: 41-147.
Aubert, H. dan Pinta, M., 1977. Trace element in soils. Elsevier Sci. Publ. Co., New York.
Bakken, A.K., Gautneb, H., dan Myhr, K., 1997. The potential of crushed rocks and mine tailings as slow-releasing K fertilizers assessed by intensive cropping with Italian ryegrass in different soil types. Nutrient Cycling in Agroecosystems 47: 41 – 48.
Bakken, A.K., Gautneb, H., Sveistrup, T., dan Myhr, K., 2000. Crushed rocks and mine tailings applied as K fertilizers on grassland. Nutrient Cycling in Agroecosystems 56: 53 – 57.
Barman, A.K., Varadachari, C., dan Ghosh, K., 1992. Weathering of silicate minerals by organic acids. I. Nature of cation solubilisation. Geoderma 53: 45-63.
Bockman, O.C., Kaarstad, O., Lie, O.H., dan Richard, I., 1990. Agriculture and fertilizers. Fertilizers in perspective. Norsk Hydro a.s. Publ., Oslo, Norway.
Bolland, M.D.A. dan Baker, M.J., 2000. Powdered granite is not an effective fertilizer for clover and wheat in sandy soils from Western Australia. Nutrient Cycling in Agroecosystems 56: 59 – 68.
Coroneos, C., Hinsinger, P dan Gilkes R.J., 1996. Granite powder as a source of potassium for plants: a glasshouse bioassay comparing two pasture species. Fert. Res. 45:143 – 152.
Corrales, I., Poschenrieder, C., dan Barceló, J., 1997. Influence of silicon pretreatment on aluminium toxicity in maize roots. Plant and Soil 190: 203 – 209.
Coventry, R.J., Gillman, G.P., Burton, M.E., McSkimming, D., Burkett, D.C., and Horner, N.L.R., 2001. Rejuvenating soils with MinplusTM, a rock dust and soil conditioner to improve the productivity of acidic, highly weathered soils. A Report for the Rural Industries Research and Development Corporation (RIRDC), Publ. No 01/173, Townsville, Qld.
Deer, W.A., Howie, R.A., dan Zussman, J., 1992. An introduction to rock-forming minerals. Longmans Scientific & Technical, Essex, UK.

Selasa, 11 Januari 2011

Asas Stratigrafi, Satuan Pengendapan, dan Karakter Perlapisan


Stratigrafi mempelajari susunan pengendapan lapisan sepanjang waktu geologi. Stratigrafi ialah cara memerikan (description) urutan lapisan-lapisan sedimen ke arah vertikal di suatu daerah tertentu dengan mempergunakan asas stratigrafi dan memperhubungkannya dengan waktu. Asas stratigrafi berbunyi sebagai berikut: “pada suatu urutan lapisan-lapisan batuan endapan, maka lapisan-lapisan yang ada di bawah selalu lebih tua daripada yang ada di atasnya”. Urutan-urutan stratigrafi di berbagai kerak bumi harus dibanding-bandingkan, dan bagian-bagian yang terbentuk dalam waktu yang bersamaan harus diketahui. Cara untuk membandingkan urutan stratigrafi tersebut adalah dengan mengkorelasikan atau menasabahkan (Gambar 36.).




Gambar 36. Cara Mengkorelasi / Penasabahan
 
 

Perlapisan Sedimen
Perwujudan sedimen yang tampak sebagai suatu benda yang pipih dan berbentuk lempeng atau kanta, yang secara litologi homogen (bersusunan sama). Stratum (=satuan sedimen) merupakan bagian pengendapan yang terbentuk selama susunan fisika dan kimianya sama. Perlapisan dapat sejajar maupun tidak sejajar. Contoh perlapisan dapat dilihat dalam Gambar 37.



Gambar 37. Berbagai Tipe Perlapisan (Bedding)
 
 



Perlapisan dapat terjadi melalui proses perlapisan pilihan (graded bedding), yang menunjukkan adanya perubahan besar butir pada lapisan-lapisan. Apabila sedimen lempungan berinteraksi dengan udara, maka akan dapat terjadi rekah-kerut (lekang).
Sebab-sebab terjadinya perlapisan:
1.            Perubahan-perubahan keadaan iklim
2.            Perubahan-perubahan dalam daya angkut air
3.            Perubahan-perubahan pada muka laut
4.            Pengaruh-pengaruh kimiawi
5.            Gerak naik di daerah-daerah yang mengalami erosi
6.            Perlapisan karena jasad-jasad

Karakter Perlapisan Batuan

A. Kemiringan perlapisan batuan (dip)
  1. Dip sesungguhnya (true dip), adalah dip yang sesungguhnya dari suatu batuan.
  2. Dip semu (apparent dip), adalah dip hasil pengukuran lapangan .




Gambar 38. Sketsa Dip dan Strike serta Arahnya
 
 



Fungsi dip:
  1. Analisis struktur geologi
  2. Korelasi stratigrafi / asas stratigrafi
  3. Prediksi arah aliran bawah tanah
  4. Analisis kejadian gerak massa batruan

B. Tebal lapisan

  1. Ketebalan sesungguhnya (true thickness)
  2. Ketebalan vertikal (vertical thickness)
  Adakalnya tebal lapisan agak sulit ditentuka karena lapisan tersebut telah terlipat (Gambar 39) Cara penentuan tebal lapisan secara sederhana dapat dilihat pada Gambar 40.

Gambar 39. Contoh Tebal Lapisan pada Strata yang Terlipat (A-B-C)
 






Gambar 40. Cara Penentuan Tebal Lapisan (BC = AB sin b = AB cos a)
 
 


Keselarasan dan Ketidakselarasan Batuan
Ketidakselarasan batuan (unconformity) merupakan indikasi adanya perubahan sementara atau permanen dari kondisi-kondisi masa lampau. Perubahan-perubahan kondisi tersebut menunjukkan adanya fase orogenik, transgressi atau regressi, perubahan fasies, perubahan iklim, dan perubahan faunal sepanjang waktu. Ketidakselarasan dapat digunakan untuk menentukan batas-batas sistem stratigrafi atau sistem subdivisi.
Ketidakselarasan memiliki tiga aspek penting yang perlu diketahui. Ketiga aspek penting tersebut adalah sebagai berikut.
1.    Aspek waktu
Ketidakselarasan berkembang selama periode tertentu saat tidak ada sedimen yang terendapkan waktu itu. Dengan kata lain, ketidakselarasan mencerminkan waktu yang tidak tercatat.
2.    Aspek pengendapan/deposisi
Pada ketidakselarasan terdapat interaksi proses pengendapan, yang meliputi wilayah luas maupun sempit. Jumlah material yang diendapkan didominasi oleh yang berada pada tingkat rendah.
3.    Aspek struktur
Ketidakselarasan dapat terjadi dalam bentuk struktur planar yang memisahkan lapisan tua dan muda. Bidang ketidakselarasan dapat berupa bidang yang lapuk, erosi/denudasi (suatu permukaan yang non-deposisional). Struktur ketidakselarasan dapat sejajar dengan lapisan teratas dapat pula tidak teratur (irregular). Apabila terjadi gerakan bumi yang lebih lanjut dapat menghasilkan lipatan atau patahan.
Tipe-tipe ketidakselarasan
1.    Angular unconformity
Lapisan terbawah adalah lapisan yang tua, memiliki dip yang berbeda terhadap lapisan di atasnya. Tipe ini mencakup hal-hal yang tidak terkait dengan adanya proses pelipatan.
2.    Paralel unconformity
Lapisan terbawah dan lapisan teratas memiliki dip yang hampir sama dan arahnya sama.


3.    Non-depositional unconformity
Tipe ini merupakan tipe yang sulit ditemui atau sedikit ditemukan di lapangan. Periode pembentukan tipe ini relatif pendek, bersifat lokal, dan tidak terjadi proses deposisi dalam satu waktu. Pada tipe ini juga tidak ditemui adanya gejala-gejala endogen
4.    Heterolithic unconformity
Tipe ini terbentuk apabila sedimen menumpang di atas batuan beku intrusi atau menumpang di atas batuan metamorf.
Sketsa tipe-tipe ketidakselarasan dapat dilihat pada Gambar 41.




Gambar 41. Sketsa Berbagai Macam Ketidakselarasan
 
 


Peta Geologi

Peta geologi memberikan petunjuk tentang susunan lapisan batuan dan pada umumnya memberikan informasi tentang formasi apa saja yang ada di daerah yang dipetakan. Dasar untuk peta geologi biasanya adalah peta topografi.
Jenis-jenis peta geologi dan peta-peta yang berkaitan dengan peta geologi adalah sebagai berikut.
  1. Peta geologi permukaan (surface geological map), yaitu peta yang memberikan berbagai formasi geologi yang langsung terletak di bawah permukaan. Skala peta ini bervariasi antara 1 : 50.000 dan lebih besar, berguna untuk menentukan lokasi bahan bangunan, drainase, pencarian air, pembuatan lapangan terbang, maupun pembuatan jalan.
  2. Peta singkapan (outcrop map), yaitu peta yang umumnya berskala besar, mencantumkan lokasi ditemukannya batuan padat, yang dapat memberikan sejumlah keterangan dari pemboran beserta sifat batuan dan kondisi strukturalnya. Peta ini digunakan untuk menentukan lokasi, misalnya material yang berupa pecahan batu, dapat ditemukan langsung di bawah permukaan.
  3. Peta ikhtisar geologis, yaitu peta yang memberikan informasi langsung berupa formasi-formasi yang telah tersingkap, mapun ekstrapolasi terhadap beberapa lokasi yang formasinya masih tertutup oleh lapisan Holosen. Peta ini kadang agak skematis, umumnya berskala sedang atau kecil, dengan skala 1 : 100.000 atau lebih kecil.
  4. Peta struktur, yaitu peta dengan garis-garis kedalaman yang dikonstruksikan pada permukaan sebuah lapisan tertentu yang berada di bawah permukaan. Peta ini memiliki skala sedang hingga besar.
  5. Peta isopach, yaitu peta yang menggambarkan garis-garis yang menghubungkan titik-titik suatu formasi atau lapisan dengan ketebalan yang sama. Dalam peta ini tidak ditemukan konfigurasi struktural. Peta ini berskala sedang hingga besar.
  6. Peta fotogeologi, yaitu peta yang dibuat berdasarkan interpretasi foto udara. Peta fotogeologi harus selalu disesuaikan dengan keadaan yang sesungguhnya di lapangan.
  7. Peta hidrogeologi, yaitu peta yang menunjukkan kondisi airtanah pada daerah yang dipetakan. Pada peta ini umumnya ditunjukkan formasi yang permeabel dan impermeabel.
Contoh peta geologi dan beberapa simbol yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 42., Gambar 43., dan Gambar 44.



Gambar 42. Konstruksi Peta Geologi pada Daerah Pelipatan
 
 









Gambar 43. Peta Geologi dan Penampang Melintang
 
 








Gambar 44. Beberapa Simbol yang Digunakan dalam Peta Geologi
 

Lithosfer ( struktur batuan )


1.Batuan Penyusun Lithosfer
a. Batuan beku
b. Batuan sedimen
c. Batuan metamorf

Semua batuan pada mulanya dari magma
Magma keluar di permukaan bumi antara lain melalui puncak gunung berapi. Gunung
berapi ada di daratan ada pula yang di lautan. Magma yang sudah mencapai
permukaan bumi akan membeku. Magma yang membeku kemudian menjadi batuan beku.
Batuan beku muka bumi selama beribu-ribu tahun lamanya dapat hancur terurai
selama terkena panas, hujan, serta aktifitas tumbuhan dan hewan.


Selanjutnya hancuran batuan tersebut tersangkut oleh air, angin atau hewan ke
tempat lain untuk diendapkan. Hancuran batuan yang diendapkan disebut batuan
endapan atau batuan sedimen. Baik batuan sedimen atau beku dapat berubah bentuk
dalam waktu yang sangat lama karena adanya perubahan temperatur dan tekanan.
Batuan yang berubah bentuk disebut batuan malihan atau batuan metamorf.

Untuk lebih memahami jenis-jenis batuan perhatikan uraian berikut:

a. Batuan Beku










Ada dua macam batuan beku, yaitu batuan beku dalam (contohnya batu granit), dan
batuan beku luar (contohnya batu andesit.)
Untuk Mengetahui ketepatan batuan jenis batuan harus dilakukan uji laboratorium
dengan menggunakan mikroskop untuk melihat bentuk kristal batuanya.


b. Batuan sedimen










Ada beberapa macam batuan sedimen, yaitu batuan sedimen klastik, sedimen kimiawi
dan sedimen organic. Sedimen klastik berupa campuran hancuran batuan beku,
contohnya breksi, konglomerat dan batu pasir. Sedimen kimiawi berupa endapan
dari suatu pelarutan, contohnya batu kapur dan batu giok. Sedimen organic berupa
endapan sisa sisa hewan dan tumbuhan laut contohnya batu gamping dan koral.

c. Batuan Malihan (Batuan Metamorf)










Batuan malihan atau metamorf adalah batuan yang berubah bentuk. Contohnya kapur
(kalsit) berubah menjadi marmer, atau batuan kuarsa menjadi kuarsit.

2. Pemanfaatan lithosfer
Lithosfer merupakan bagian bumi yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan dan
memiluki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan di bumi. Lithosfer bagian atas
merupakan tempat hidup bagi manusia, hewan dan tanaman. Manusia melakukan
aktifitas di atas lithosfer.
Selanjutnya lithosfer bagian bawah mengandung bahan bahan mineral yang sangat
bermanfaat bagi manusia. Bahan bahan mineral atau tambang yang berasal dari
lithosfer bagian bawah diantaranya minyak bumi dan gas, emas, batu bara, besi,
nikel dan timah.

Melihat manfaat Litthosfer yang demikian besar tersebut sepantasnyalah kita
selalu bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


3. Bentuk muka bumi sebagai akibat proses vulkanisme dan diatropisme.

Mengapa bentuk permukaan bumi tidak merata. Hal ini disebabkan karena adanya
pengaruh dari luar bumi dan dalam bumi itu sendiri.

Pengaruh dari dalam bumi berupa suatu tenaga yang sangat besar sehingga dapat
membentuk muka bumi yang beraneka ragam. Tenaga yang berasal dari dalam bumi
disebut tenaga endogen. Tenaga yang berasal dari luar bumi disebut tenaga
eksogen. Tenaga eksogen bersifat merusak bentuk bentuk permukaan bumi yang
dibangun atas tenaga endogen.
Tenaga endogen meliputi tektonisme, vulkanisme dan seisme, sedangkan tenaga
eksogen meliputi pengikisan dan pengendapan.
Tenaga eksogen antara lain meliputi pelapukan (weathering) dan erosi
(pengikisan).



1. Gejala vulkanisme.
Vulkanisme yaitu peristiwa yang sehubungan dengan naiknya magma dari dalam perut
bumi.
Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair, liat serta sangat panas
yang berada dalam perut bumi. Aktifitas magma disebabkan oleh tingginya suhu
magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya sehingga dapat terjadi
retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi.Magma dapat berbentuk gas
padat dan cair.
Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke
lithosfer (kulit bumi). Apabila penyusupan magma hanya sebatas kulit bumi bagian
dalam dinamakan intrusi magma. Sedangkan penyusupan magma sampai keluar ke
permukaan bumi disebut ekstrusi magma. Sampai di sini apakah anda dapat
memahami. kalau anda sudah memahami mari ikuti penjelasan berikutnya!

1.1 Intrusi magma

intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batu-batuan,
tetapi tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma dapat dibedakan menjadi
empat, yaitu:
a) Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma menyusup diantara dua
lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan batuan tersebut.
b) Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara lapisan bumi paling atas.
Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi.
c) Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di
sela sela lipatan (korok).
d) Diaterma adalah lubang (pipa) diantara dapur magma dan kepundan gunung berapi
bentuknya seperti silinder memanjang.


1.2 Ekstrusi magma




Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar Permukaan bumi
dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi bila tekanan Gas cukup kuat dan ada
retakan pada kulit bumi . Ekstrusi magma dapat di bedakan Menjadi:
a) Erupsi linier, yaitu magma keluar melalui retakan pada kulit bumi,
berbentukKerucut gunung api.

b) Erupsi sentral, yaitu magma yang keluar melalui sebuah lubang permukaan bumi
dan membentuk gunung yang letaknya tersendiri.

c) Erupsi areal, yaitu magma yang meleleh pada permukaan bumi karena letak Magma
yang sangat dekat dengan permukaan bumi, sehingga terbentuk kawah gunung berapi
yang sangat luas.

Gunung merupakan tonjolan pada kulit bumi yang terdiri dari lereng dan puncak.
Rangkaian dari gunung-gunung membentuk pegunungan. Gunung dan pegunungan
terbentuk karena adanya tenaga endogen.
Apabila suatu tempat di permukaan bumi yang pernah atau masih mengeluarkan magma
maka terbentuklah gunung berapi.


Berdasarkan tipe letusan gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

a) Gunungapi strato atau kerucut.
Kebanyakan gunung berapi di dunia merupakan gunung api kerucut. Letusan pada
gunung api kerucut termasuk letusan kecil.letusan dapat berupa lelehan batuan
yang panas dan cair. Seringnya terjadi lelehan menyebabkan lereng gunung
berlapis lapis.Oleh karena itu, gunung api ini disebut gunung api strato.
Sebagian besar gunung berapi di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku
termasuk gunung api kerucut.

b) Gunung api maar.

Bentuk gunung api maar seperti danau kering. Jenis gunung api maar seperti danau
kering. Jenis gunung api maar tidak banyak. gunung berapi ini terbentuk karena
ada letusan besar yang membentuk lubang besar pada puncak yang di sebut kawah.
Gunung api maar memiliki corong. Contohnya Gunung Lamongan jawa Timur dengan
kawahnya Klakah.
c) Gunung api perisai

Di Indonesia tidak ada gunung yang berbentuk perisai. Gunung api perisai
contohnya Maona Loa Hawaii, Amerika Serikat. Gunung api perisai terjadi karena
magma cair keluar dengan tekanan rendah hampir tanpa letusan. Lereng gunung yang
terbantuk menjadi sangat landai.



Pada umumnya bentuk gunung berapi di Indonesia adalah strato (kerucut). Gunung
berapi yang pernah meletus, umunya berpuncak datar. Oleh karena itu, di
Indonesia sering terjadi peristiwa gunung meletus. Magma yang keluar ke
permukaan bumi ada yang padat cair dan gas. Material yang dikeluarkan oleh
gunung api tersebut, antara lain:

1) Eflata (material padat) berupa lapili, kerikil, pasir dan debu.
2) Lava dan lahar, berupa material cair.
3) Eksalasi (gas) berupa nitrogen belerang dan gas asam.

Ciri ciri gunung api yang akan meletus, antara lain:
1) Suhu di sekitar gunung naik.
2) Mata air mejadi kering
3) Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang kadang disertai getaran (gempa)
4) Tumbuhan di sekitar gunung layu, dan
5) Binatang di sekitar gunung bermigrasi.


Tanda tanda ini menandakan intrusi magma yang terus mendesak ke permukaan,
apabila desakan ini cukup kuat, yang terjadi adalah letusan gunung berapi.
Setelah terjadi letusan Gunung itu mengalami istirahat, tetapi aktifitas gunung
tersebut masih berlangsung, sehingga suatu saat dapat mengeluarkan suatu tanda
tanda aktif kembali. Peristiwa vulkanik yang terdapat pada gunung berapi setelah
meletus (post vulkanik), antara lain:


1) terdapatnya sumber gas H2 S, H2O,dan CO2.
2) Sumber air panas atau geiser.
Sumber gas ini ada yang sangat berbahaya bagi kehidupan. Bahkan dapat mematikan
misalnya yang terjadi pada Kawah Sinila (Dieng) disamping berbahaya, gejala post
vulkanik bermanfaat juga bagi kehidupan manusia. bahkan dapat juga dijadikan
objek wisata , Misalnya air panas dan kawah gunung berapi.

Danau vulkanik
Setelah gunung merapi meletus atas kepundannya yang kedap air dapat menampung
air dan membetuk danau. Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk akibat
letusan gunung yang kuat sehingga menghancurkan bagian puncaknya, kemudian
membentuk sebuah cekungan besar, cekungan menampung air dan membentuk danau.

Contoh danau vulkanik, antara lain: danau di pucak gunung lokon di Sulawesi
Utara dan Danau Kelimutu di Flores.

Manfaat dan kerugian vulkanisme

Peristiwa vulkanik selain memberikan manfaat juga dapat menimbulkan kerugian
harta benda maupun jiwa. Keuntungan yang kita peroleh setelah vulkanisme
berlangsung antara lain:


1) Objek wisata berupa kawah (Kawah gunung Bromo ), sumber air panas yang
memancar (Yellowstone di Amerika Serikat, dan Pelabuhan Ratu di Cisolok), sumber
air mineral (Maribaya di Jawa Barat dan Baturaden di Jawa Tengah)
2) Sumber energi panas bumi misalnya di kamojang, Jawa Barat.
3) Tanah subur yang akan diperoleh setelah beberapa tahun kemudian.

Kerugian yang kita alami terutama adalah berupa jiwa dan harta benda, karena:

1) Gempa bumi yang dapat ditimbulkanya dapat merusak bangunan.
2) Kebakaran hutan akibat aliran lava pijar.
3) Tebaran abu yang sangat tebal dan meluas dapat merusak kesehatan dan
mengotori sarana yang ada.


2. Bentuk muka bumi akibat diatropisme
Diatropisme adalah proses pembentukan kembali kulit bumi pembentukan
gunung-gunung, lembah-lembah, lipatan lipatan dan retakan retakan. Proses
pembentukan lembah kulit bumi tersebut karena adanya tenaga tektonik.

Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari kulit bumi yang menyebabkan perubahan
lapisan permukaan bumi, baik mendatar maupun vertikal. Tenaga tektonik adalah
tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan gerak naik dan turun
lapisan kulit bumi. Gerak itu meliputi gerak orogenetik dan gerak epirogenetik.
(orogenesa dan epiro genesa).
Gerak orogenetik adalah gerak yang dapat menimbulkan lipatan patahan retakan
disebabkan karena gerakan dalam bumi yang besar dan meliputi daerah yang sempit
serta berlangsung dalam waktu yang singkat.


Lipatan, yaitu gerakan pada lapisan bumi yang tidak terlalu besar dan
berlangsung dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi
berkerut atau melipat, kerutan atau lipatan bumi ini yang nantinya menjadi
pegunungan. Punggung lipatan dinamakan antliklinal, daerah lembah (sinklinal)
yang sangat luas dinamakan geosinklinal, ada beberapa lipatan, yaitu lipatan
tegak miring, rebah, menggantung, isoklin dan kelopak.






Patahan yaitu gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung yang
dalam waktu yang sangat cepat, sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi retak
atau patah. Bagian muka bumi yang mengalami patahan seperti graben dan horst.
Horst adalah tanah naik, terjadi bila terjadi pengangkatan. Graben adalah tanah
turun, terjadi bila blok batuan mengalami penurunan.

Selasa, 26 Oktober 2010

Chronology of the eruption of Merapi October 26, 2010

Jakarta - Mount Merapi which is the most dangerous mountain in Indonesia have been let off the contents of his stomach on Tuesday, October 26 at 17:02 pm. The following chronology of the eruption of Merapi version direct observation as a press release Investigation and Technology Development Center Kegunungapian (BPPTK) in AFP on Wednesday (10/27/2010):
There are 4 seismographs to observe akvitas volcanic Merapi, which is placed in Klatakan / Babadan / Magelang (west side); Pusunglondon / Selo / Boyolali (north); pure-bred / Klaten (east / southeast), and Plawangan / Turgo / Ground (south).
* By At 16:00 pm *Volcanic activity is still likely to rise, after rising status to "Beware" since the day before. Visually through a camera placed on the slopes of Merapi observation post could not be observed directly because of heavy fog closed since a few hours earlier (photo lower left corner). Even the posts on the slopes of Merapi, also reported that they were not able to monitor visually. Communication through radio network HT.
* At 4:00 p.m. to 17:00 pm *There was a significant increase in activity include volcanic earthquakes, multiphase (MP), avalanches, etc.. But it is still considered not 'quite' dangerous. There was no visual images at all. All just depends on the tools. Could there by a number of national media interviews on relevant officers possibility / scenario eruption will happen.
* At 5:00 p.m. to 17:30 pm *Spike in volcanic activity occurred a very sharp, especially starting at 17:02 pm, which turned out to be hot clouds glide. Four seismograph recorded the amplitude of vibration was all a very wide (large), even the needle was released repeatedly. Officers monitoring began frantically busy and unusual, especially because of the large amplitude and duration of the incident. Observation posts on the slopes was also reported Thus, it's just completely unknown, what is a cloud of hot / else. All covered with thick fog. No one can guess what's behind the thick fog.
* 17:30 am - 18:30 pm *The fog was very thick and beginning to get dark. Increasingly difficult to find out what happened at Merapi. Four seismograph records the vibrations are still very large (and yet again a few times until the needle off, and quickly replaced the paper gulungan2 once - when normally 12 hours or so). Officers claimed there were 3 times the eruption and hot clouds glide and possibly explosive spread in all directions. Officers memperintahkan central to all postal workers on the slopes of Merapi to immediately leave the post, down to the evacuation. Officers also contact the officers in some places, to be forced evacuation for residents. Sirens sounded in different places. HT Radio Network began very Crowded, as well as phone network in post. Some officers seemed very panicked (crying?), While continuing to pray and bertakbir.
* At 6:30 p.m. to 19:00 pm *Center officials issued a statement / official information on the media, about the occurrence of this eruption, and the focus now is on the evacuation process. The volcanic activity was detected in the seismograph began to decline, except for a seismograph in Plawangan / Turgo / Kalikuning. Officials worried about Kinahrejo area (where mbah Maridjan), Kaliadem, and around the southern slope of Merapi.
* 19:00 pm - ...Officials at the observation posts Merapi slope to climb back to their posts (but some are still forbidden to return for a while). Rain gravel and ash began to be reported by the monitoring stations, particularly in the area southwest of Merapi. The smell of sulfur can also be kissed from around the slopes. Merapi activity is monitored from the seismograph, continued to tend down, even normally calm stable, although a few times sometimes happen glowing material. Visually Merapi is still shrouded in fog, so no one can who can see 'how big eruption, where the hot clouds, etc.'. The condition of the officer began to calm down, even several times seen joking. Journalists and media continue to standby at the monitoring center, and several follow up to the Ground.
* Aftermath *Officers BPPTK declared Merapi is currently in a state of deep sleep after last activity. Not yet known, whether there will be a continuation of volcanic activity again. They had feared that if that happened earlier was / is just the beginning only. As the patterns of previous eruption of Merapi, which are usually small first, then medium, large, down, back to normal again, and so on. Point fire / lava flows also can not be confirmed. What happened was greater than that occurred in 2006.
Location affected by the eruption / hot clouds evening before, chances are the areas around the slopes of Merapi, within a radius of 4-6 km, particularly the southern slopes.
Ash / volcanic ash was reported even to Gombong - Kebumen. Evacuation is still being conducted.

Letusan Gunung Merapi bersifat eksplosif

Yogyakarta - Jumlah korban tewas akibat awan panas (wedhus gembel) Gunung Merapi, sedikitnya 19 orang, kemarin lebih besar dibandingkan peristiwa letusan Merapi 2006 lalu. Sebab letusan 2010 lebih besar daripada 2006 yang menewaskan 2 orang. "Dulu 2006 letusan Merapi masih tergolong normal. Sedangkan 2010 kemarin letusan Merapi berjenis eksplosif," kata kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Subandriyo, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (27/10/2010). Indikasi letusan eksplosif, dia melanjutkan, sudah terlihat dengan fenomena gelombang awan panas yang mengarah ke dusun sekitar Merapi. Ditambah lagi dengan dentuman yang beberapa kali terdengar saat erupsi terjadi.
"Jalur ke Kali Kuning itu yang paling rawan meski selama ini di situ relatif aman," tutur Subandriyo.

Dia menampik jika korban tewas tersebut dikarenakan tidak ada peringatan dari pihak berwenang kepada masyarakat. "2-3 hari sebelum letusan sudah disosialisasikan ke warga dan meminta mengungsi, karena sudah diperkirakan berbahaya dengan status awas," sanggahnya. Menurut Subandriyo, kondisi Merapi saat ini relatif aman dibandingkan dengan hari kemarin. Proses evakuasi masih dilakukan tim SAR di Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. Desa ini merupakan kampung Mbah Mardjan. Di desa ini sekitar 16 jenazah ditemukan hingga semalam, belum termasuk Mbah Maridjan yang ditemukan tadi pagi.
sumber: detik.com